10.5.09

Gunung Kapur di Kecamatan Babat


Gunung Kapur Pucakwangi, Guru para Pemanjat Tebing

Satu pijakan saja yang menumpu tubuh Akbar, sementara tangan kirinya meraba-raba permukaan tebing yang lain berusaha mencari pegangan. Karena lelah bertahan, tubuh Akbar pun terempas dan membentur sisi tebing bagian bawah yang agak teras. Kakinya terluka, namun tidak seberapa besar.

Akbar tidak menyerah. Semangatnya terus menggeliat. Ia mencoba lagi mencapai puncak tebing 125 di kawasan pegunungan kapur Pucakwangi, Kecamatan Babat. Lima langkah lagi ke atas, puncak tebing pun berhasil disentuhnya.

Ini kisah pemanjatan pertama Akbar di tebing gunung kapur Pucakwangi. Tebing ini memang cocok untuk berlatih panjat tebing bagi pemula seperti Akbar. Karakteristik batuannya yang kapur dan cacat tebingnya yang besar-besar, memudahkan pemanjat pemula untuk berlatih. Ketinggiannya yang hampir seratus meter memang membuat nyali agak ciut. Namun, puncak tebing tetap memancing penasaran para pendakinya.

Bagi mereka yang sudah terlatih, masih ada beberapa rute pemanjatan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Umumnya, panjang rute hanya belasan meter, dengan tingkat kesulitan yang bervariasi, dari 5.10 sampai 5.13 menurut ukuran panjat tebing. Rute-rute seperti ini kebanyakan jadi tempat berlatih atlet panjat tebing yang sering mengikuti event kejuaraan, jadi semacam rute sport climbing. Poster, Rockstar, dan Cobra adalah nama-nama rute pemanjatan di tebing 125 Pucakwangi.

Mau rute pemanjatan yang lebih tinggi juga ada dan tidak sesulit seperti rute sport climbing. Tingginya hampir seratus meter dan menggunakan sistem multipitch, pemanjatan tebing yang terbagi dalam beberapa lintasan sampai puncaknya dalam satu tim. Untuk pemanjatan multipitch disarankan membawa pengaman panjat tebing yang agak banyak, sebab setiap menambah ketinggian kita harus memasang pengaman sendiri. Kalau pada rute sport climbing, beberapa pengaman permanen (Hanger) sudah terpasang mantap di sana. Kita tinggal menggunakannya saja.

Para pengunjung tebing Pucakwangi kebanyakan dari Bandung, mungkin karena letaknya yang hanya satu jam perjalanan dari kota kembang itu. Namun, beberapa ada juga yang datang dari Jakarta dan Bogor. Selain atlet-atlet panjat tebing, sebagian yang sering memanjat di Pucakwangi berasal dari kalangan pencinta alam. Sampai-sampai novelis Ayu Utami ikutan manjat di Pucakwangi untuk merampungkan sebuah novel yang kabarnya bercerita tentang pemanjat tebing. Umumnya, sepatu-sepatu panjat mereka yang berwarna cerah menghiasi tebing kapur yang berwarna kapur monoton itu di waktu akhir pekan. Bahkan, karena ramainya para pemanjat kadang harus mengantre giliran untuk memanjat.

Seperti daerah pegunungan kapur lainnya, Pucakwangi kering dan panas. Hampir-hampir tidak ada pohon tempat berteduh, hampir sama dengan kawasan gunung kapur Ciampea dan Kelapa Nunggal Bogor tempat nongkrong pemanjat-pemanjat dari Jakarta dan Bogor. Tapi sekarang jangan takut kepanasan lagi kalau memanjat di sana. Beberapa waktu lalu teman-teman dari klub panjat tebing Skygers sudah membuat saung-saung kecil yang dapat menghindari kulit berubah legam. Katanya, biar tebing Pucakwangi semakin nyaman buat manjat dan semakin ramai.

Sangat sayang kalau satu dua hari saja berkunjung ke Pucakwangi untuk panjat tebing. Paling enak, berhari-hari di Pucakwangi terbenam dalam tarian-tarian vertikal panjat tebing sampai otot-otot lengan tak kuasa lagi menggenggam tebing, jadi puas dibuatnya. Soal menginap, jangan takut tidak kebagian tempat bermalam. Kita bisa menumpang di saung yang jadi base camp anak-anak Skygers kalau mau, teman-teman pemanjat di sana ramah-ramah. Selain itu, kita juga bisa bagi-bagi ilmu panjat tebing.

Bisa dibilang, kawasan gunung kapur Pucakwangi merupakan kompleksnya panjat tebing di Kecamatan Babat, meskipun mungkin tidak sebagus kompleks pemanjatan tebing di Toraja, Sulawesi sana. Selain tebing 125, di kawasan ini masih ada beberapa tebing lagi yang biasa jadi ajang berlatih para pemanjat seperti tebing 48 dan tebing 90. Nama-nama tebing itu diberikan para pemanjat dengan menunjuk pada ketinggiannya. Dipilihnya kawasan ini sebagai tempat memanjat karena memang batuannya yang kapur sangat baik untuk panjat tebing selain granit dan limestone.

Seperti memanjat di tempat lain, memanjat di tebing Pucakwangi juga ada etikanya. Etika berarti aturan main yang harus dihormati oleh suatu komunitas, dalam hal ini berlaku untuk komunitas pemanjat tebing. Menghormati masyarakat setempat, menghormati sesama pemanjat, tidak merusak tebing dan tidak menimbulkan erosi lingkungan adalah etika yang harus dihormati kalau mau manjat di tebing Pucakwangi. Demikian tulis sebuah papan pengumuman di kaki tebing yang memuat pasal-pasal aturan main itu.

Sepele mungkin soal etika ini, tapi melanggarnya bisa sangat menyinggung pemanjat yang lain. Kalau sudah begini, panjat tebing jadi tidak asyik lagi. Tidak percaya? Pemanjat top Amerika, Ron Kauk pernah membawa gaya modern dalam membuat jalur pemanjatan ke Yosemite National Park yang masih memegang teguh konservasi alamnya. Ketika bertemu dengan John Bachar, pemanjat lokal yang masih memegang teguh gaya tradisional, pukul-pukulan di antara keduanya tak bisa dihindarkan. Perkara pun selesai di Pengadilan. Sayang, panjat tebing di Indonesia belum serius menaruh perhatian pada etika.

Tinggal Kenangan

Ternyata, pegunungan kapur Pucakwangi yang terletak di sebelah Selatan Kecamatan Babat tidak hanya menarik minat para pemanjat tebing, tapi juga pengusaha penambang kapur. Puluhan pabrik kapur dan marmer berjejer di sepanjang jalan yang menjadi pintu gerbang ke arah Tuban itu. Bahkan, beberapa gunung kapur ada yang tinggal setengahnya, habis ditambang sejak seabad lalu.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para pemanjat tebing yang biasa mangkal di Pucakwangi. Penambangan kapur dengan menghancurkan gunung kapur yang sudah dimulai dari arah Sumur Alas Bojonegoro, cepat atau lambat akan berujung pada penghancuran tebing-tebing tempat para pemanjat berlatih. Menurut Tedy, pentolan klub panjat tebing Skygers, sudah ada pengusaha yang memiliki izin untuk menambang tebing 125 Pucakwangi. “Tinggal menunggu waktu saja,” begitu katanya.

Bisa dibilang, perkembangan panjat tebing di Indonesia mulainya dari tebing-tebing kapur Pucakwangi. Sederet nama-nama pemanjat tebing legendaris memulai prestasinya setahap demi setahap di tempat ini. Bahkan, beberapa pemanjat top Prancis yang diundang Kantor Menpora tahun 1988 dulu sempat menularkan ilmunya kepada pemanjat-pemanjat Indonesia di Pucakwangi. Jadi secara historis, tebing kapur Pucakwangi juga punya arti bagi panjat tebing Indonesia.

Sekarang, usaha-usaha para pemanjat itu di Pucakwangi sudah menuai menyejajarkan nama Indonesia dengan negara-negara lain. Bukan hanya itu, para pemanjat adventure yang biasa melakukan ekspedisi panjat tebing pun punya prestasi karena ketekunannya berlatih, salah satunya di tebing Pucakwangi. Tapi sayang, kalau kekhawatiran para pemanjat kita mengenai kehancuran tebing Pucakwangi sampai terjadi, maka tebing Pucakwangi hanya akan jadi tinggal kenangan.

9.5.09

Potensi Sandang di Lamongan

Kabupaten Lamongan ternyata bukan hanya kaya ragam olah makanan seperti Wingko babat, Solo, Tahu Campur dan masakan­masakan Sea Food saja, tetapi juga kaya kazanah budaya sandang dengan berbagai aksesorinya.

Secara tradisional telah lama berkem­bang produksi sarung dan tenun ikat Parengan di Kecamatan Maduran, batik tulis di Desa Sendangagung dan Sendang-duwur Paciran, kerajinan bordir menyebar di Desa Sendang­agung, Sendang­duwur, Tunggul dan Paciran Kecamatan Paciran, Desa Banjamadu Karanggeneng, Desa Tanggung­prigel, Wangen dan Sudangan Kecamatan Glagah, Bogobabadan, Watangpanjang dan Banyu Urip Kecamatan Karangbinangun.

Kerajinan Bos Kopiah juga berkembang di Desa Putatkumpul dan Pomahanjanggan Kecamatan Turi, Bojoasri dan Pengangsalan Kecamatan Kalitengah, Karangturi dan Meluwur Kecamatan Glagah. Untuk kerajinan tikar karpet terdapat di Desa Jatirenggo dan Jotosanur Kecamatan Tikung dan Kelurahan Sidoharjo Kecamatan Lamongan. Kemudian kerajinan tas anyaman plastik dan tas imitasi berkembang di Desa Turi dan Pomahanjanggan Kecamatan Turi serta Kelurahan Sidoharjo Kecamatan Lamongan, sedangkan tas enceng gondok berkembang pesat di Desa Pel')guml;>ulanadi Kecamatan Tikung dan Kelurahan Sidoharjo Lamongan.

Industri rumah tangga konveksi berkembang pesat di Desa Tri Tunggal Kecamatan Babat yang memproduksi berbagai jenis kaos, kostum olah raga, jakel, taplak meja, baju tidur dan seragam sekolah. Pemasarannya telah meliputi wilayah Jawa Timur, Solo, Jogja, Bali dan Kalimantan. Potensi Desa Tri Tunggal ini dikembangkan menjadi kawasan sentra industri konveksi yang prospektif, apalagi lokasinya yang strategis di tepi jalan raya Surabaya-Babat­Jakarta.

Fonenomena Batik dan Bordir Sendang

Fungsi utama pakaian sebagai penutup aurot, ternyata daIam perkembangan budaya modern mempunyai makna yang lebih dalam. diantaranya mempengaruhi estetika, prestise dan kondisi kultural dari peradaban man usia. Orang akan tampil bed a dengan penampilan melalui busana yang dikenakan.

Watak artistik ini mendorong penciptaan tekstil lebih mengutamakan unsur ragam hiasan dari pada fungslnya pelindung badan. Kain palos dianggap belum sempurna sebagai bahan sandang karena tidak menyampaikan pesan artistik

Pada hari-hari besar, resepsi-resepsi, hari-hari istimewa orang cenderung mengubah penampilannya dengan memakai busana dengan desain tertentu. Dengan penampilan pakaian yang berbeda itu, marta bat orang akan terangkat sesuai dengan nilai-nilai budaya yang sedang berkembang. Gejala sosial ini ditangkap perancang grafis batik dan bordir Sendang Lamongan dengan mencari kreasi dan inovasi baru baik motif, corak maupun jenis kain dasarnya sehingga dapat mengikuti selera pasar.

Di Desa Sendangduwur dan Desa Sendangagung Lamongan terdapat ratusan pengrajin batik Sendang. Di desa ini juga terdapat kerajinan konveksi bordiran dan kerajinan emas yang telah lama berkembang secara tradisional. Bahkan pada tahun 1991 pengrajin emas H. Kusnan mendapatkan penghargaan Upakarti dari Presiden RI, kemudian pengrajin batik tulis dan bordir ibu Sumikah juga mendapatkan Upakarti tahun 1992.

Produk-produk hiasan bordir Sendang yang dipasarkan beraneka ragam. Mulai dari blouse, rok, rompi dan kerudung. Busana muslimpun tidak ketinggalan untuk dihiasi dengan bordir. Busana bordir yang dipadukan dengan payet-payet menambah nilai artistik dan menunjukkan budaya pemakainya.

Kualitas busana bordiran produksi Desa Sendang sebenarnya tidak kalah bila dibanding produksi Tasikmalaya, sehingga dengan dibangunnya obyek wisata berskala internasional Jatim Park II - WBL Tanjung Kodok yang berlokasi bersebelahan Desa dapat menjadi etalase dan pintu gerbang pengembangan promosi, produksi dan pemasaran dengan dunia luar. Potensi Desa ini dapat berkembang menjadi kawasan sentra industri kerajinan batik.

Bordiran Sendang Lamongan merupakan sebuah seni yang memadukan dekorasi sulaman pada kain. Motif dan corak hiasan bordir bukanlah sekedar hiasan belaka. tetapi mengandung arti sejarah dan budaya.

Sebagai daerah pesisiran, motif-motif sandang produk tradisional Lamongan seperti batik tulis Sendang dan Tenun Ikat Parengan mempunyai corak dan motif khas yang kaya gimbal-gimbal pesan dalam grafis desainnya, seperti sketsa ikan, perahu, titik-titik buih ombak, pepohonan, bunga dan sebagainya.

Kekuatan dan keunggulan desain tekstil tradisional teletak pada nilai simbolik atau nilai ritual. Para perancang motif dan pembatik menyampaikan sesuatu kepada orang lain dengan cara simbolik, termasuk kostumnya dengan desain tekstil. Simbol itu terekspresikan lewat bentuk, motif dan warna, dan ternyata memiliki nilai estetika yang tinggi. Disana ada goresan hati, sketsa jiwa dan warna­warni kehidupan. Motif dan corak batik hakekatnya dapat menjadi sebuah cermin jiwa perancang dan pemakainya.

Potensi batik tradisional dan hiasan bordir Sendang apabila dimanajemeni dengan baik dapat berkembang menjadi sebuah industri besar yang menghasilkan.

Menghadapi persaingan pasar tekstil modern, tekstil tradisional mempunyai peluang besar untuk berkembang, asal mau menciptakan desain-desain modern. Dalam kaitan ini desain tradisional dapat kita fungsikan sebagai bahan modifikasi, inovasi dan inspirasi dari desain modern, sehingga menjadi produk sandang yang memiliki standard (Ekonomi).